Post terkait Berita CheeR

Kolaborasi HDSS Sleman FK-KMK UGM dan Bumiku Lestari Dorong Kemandirian Masyarakat Kelola Sampah Rumah Tangga di Dusun Mlangi melalui PHBS ‘BERSERI’ (Bersih, Sehat, Mandiri)

Kesehatan masyarakat tidak hanya ditentukan oleh pelayanan kesehatan atau pengobatan ketika sakit, tetapi juga oleh kebiasaan sehari-hari yang dilakukan dalam kehidupan rumah tangga. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan adalah menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). PHBS merupakan serangkaian perilaku yang dilakukan secara sadar untuk menjaga kesehatan diri, keluarga, dan lingkungan sehingga masyarakat mampu hidup lebih sehat dan produktif.

Salah satu aspek penting dalam PHBS yang sering kali luput dari perhatian adalah pengelolaan sampah rumah tangga. Setiap hari, rumah tangga menghasilkan berbagai jenis sampah, mulai dari sisa makanan, plastik kemasan, botol, hingga kertas. Jika tidak dikelola dengan baik, sampah dapat menimbulkan berbagai masalah lingkungan dan kesehatan. Tumpukan sampah yang tidak terkelola berpotensi menjadi sarang lalat, tikus, dan nyamuk yang dapat menularkan penyakit. Selain itu, sampah yang dibuang sembarangan juga dapat mencemari tanah, air, dan udara di sekitar lingkungan tempat tinggal.

Kondisi pengelolaan sampah yang kurang optimal juga ditemukan di salah satu wilayah kerja HDSS Sleman, yaitu Dusun Mlangi, Kalurahan Nogotirto, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sebagian besar warga di Dusun Mlangi masih bergantung pada jasa pengambilan sampah oleh pihak ketiga, dengan kondisi sampah yang dikumpulkan tanpa melalui proses pemilahan. Fasilitas pengelolaan sampah di sekitar wilayah padukuhan juga memiliki keterbatasan kapasitas sehingga belum mampu menampung seluruh sampah yang dihasilkan oleh warga. Berdasarkan kondisi tersebut, dr. M. Lutfan Lazuardi, M.Kes., Ph.D yang merupakan salah satu Peneliti HDSS Sleman mengadakan kegiatan pengabdian masyarakat dengan tema “Optimalisasi PHBS BERSERI (Bersih, Sehat, dan Mandiri) dalam Meningkatkan Kemandirian Pengelolaan Sampah Rumah Tangga di Padukuhan Mlangi”.

Tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) pada rumah tangga di Padukuhan Mlangi melalui penguatan pengelolaan sampah rumah tangga secara mandiri. Dalam pelaksanaannya, HDSS Sleman juga berkolaborasi dengan salah satu gerakan pengelolaan sampah di Yogyakarta yaitu Bumiku Lestari. Bumiku Lestari memfasilitasi masyarakat untuk menukarkan sampah anorganik dengan bahan pokok makanan bergizi.

Kegiatan pengabdian ini dihadiri oleh sekitar 70 peserta yang terdiri atas masyarakat Padukuhan Mlangi, kader PKK, serta tokoh masyarakat. Para peserta diminta untuk membawa sampah anorganik yang mereka miliki seperti kertas, kardus, botol plastik, minyak jelantah, dan lain sebagainya. Kegiatan ini diawali dengan sambutan dari Tim Pengabdian Masyarakat, Ibu Ema Madyaningrum, S.Kep., Ns., M.Kes., Ph.D, serta Kepala Padukuhan Mlangi, Bapak Achmad Franky S. Selanjutnya dilakukan edukasi kepada masyarakat yang disampaikan oleh Yana Yulyana, S.Kp.G., MPH mengenai dampak sampah terhadap kesehatan dan pengelolaan sampah rumah tangga. Pada sesi ini materi yang diberikan mencakup dampak sampah terhadap lingkungan dan kesehatan, pentingnya pemilahan sampah sejak dari rumah tangga, serta langkah-langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat untuk mengelola sampah secara lebih bertanggung jawab.

Setelah sesi edukasi, Tim Bumiku Lestari memberikan penjelasan mengenai berbagai jenis sampah rumah tangga yang dapat dipilah dan dikumpulkan, khususnya sampah anorganik yang memiliki nilai ekonomi. Selain itu, peserta juga diperkenalkan pada mekanisme pengumpulan dan penukaran sampah yang dijalankan Bumiku Lestari, di mana sampah yang telah dipilah dapat ditukarkan dengan kebutuhan pangan sesuai jenis dan berat sampah yang disetorkan. Selanjutnya dilakukan penimbangan sampah yang dibawa peserta dari rumah masing-masing. Sampah yang telah dipilah kemudian ditimbang oleh Tim Bumiku Lestari sebagai bentuk pengenalan kepada masyarakat bahwa sampah memiliki nilai guna dan nilai ekonomi apabila dikelola dengan baik.

Pada akhir kegiatan dilakukan diskusi evaluasi bersama Kepala Padukuhan Mlangi, perwakilan kader, Tim Bumiku Lestari, dan Tim Pengabdian Masyarakat. Dalam diskusi tersebut, muncul gagasan untuk membentuk kader penggerak sampah yang dapat mengkoordinasikan kegiatan pengelolaan sampah di Padukuhan Mlangi. Selain itu, dibahas pula kemungkinan kerjasama berkelanjutan dengan Bumiku Lestari sebagai mitra dalam pengumpulan dan pengelolaan sampah yang telah dipilah oleh masyarakat.

Pelaksanaan kegiatan ini sejalan dengan komitmen FK-KMK UGM dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 11 tentang Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan, SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Melalui edukasi perilaku hidup bersih dan sehat serta pengelolaan sampah rumah tangga, kegiatan ini mendorong terciptanya lingkungan permukiman yang lebih bersih dan sehat sebagai bagian dari upaya pencegahan masalah kesehatan. Peningkatan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam memilah serta mengelola sampah juga diharapkan dapat memperkuat kemandirian masyarakat dalam menerapkan pengelolaan sampah yang bertanggung jawab dan berkelanjutan. Selain itu, keterlibatan Tim Pengabdian Masyarakat, pemerintah padukuhan, kader, masyarakat, dan Bumiku Lestari menunjukkan pentingnya kemitraan lintas pihak dalam menjaga keberlanjutan kegiatan pengelolaan sampah di Padukuhan Mlangi..

Penulis
Hanif Istianah, Yana Yulyana

Editor
Septi Kurnia Lestari

Dokumentasi
Syafira Nur Rosyida

Mengukur Tinggi Tanpa Berdiri?

Di banyak ruang praktik dan rumah warga di Sleman, petugas kesehatan dan enumerator survei sering menghadapi situasi yang sama. Tinggi badan perlu dicatat, tetapi stadiometer tidak tersedia, ruang terlalu sempit, atau responden tidak bisa berdiri tegak karena sakit, kelelahan, obesitas, atau usia lanjut. Padahal, tinggi badan dibutuhkan untuk berbagai perhitungan dasar seperti status gizi dan pemantauan risiko kesehatan.

Kesenjangan antara standar pengukuran dan realitas lapangan inilah yang mendorong tim Health and Demographic Surveillance System bersama FKKMK UGM menyusun rumus lokal untuk memperkirakan tinggi badan orang dewasa, termasuk kelompok usia lanjut, hanya dari panjang tulang ulna, usia, dan jenis kelamin.

Berbagai studi internasional menunjukkan bahwa ukuran segmen tubuh, terutama panjang tulang ulna di lengan bawah, berkorelasi kuat dengan tinggi badan. Ulna juga praktis karena dapat diukur pada posisi duduk atau berbaring menggunakan alat sederhana, dengan prosedur singkat dan minim gerakan. Dibandingkan proksi lain seperti tinggi lutut atau rentang lengan, ulna sering lebih mudah diterapkan pada kondisi lapangan yang serba terbatas. Namun, rumus yang dibuat di negara lain tidak selalu akurat bila langsung dipakai pada populasi dengan latar etnis, pola tumbuh kembang, dan riwayat gizi yang berbeda. Karena itu, rumus berbasis data lokal menjadi penting.

Rumus ini dikembangkan menggunakan data sekunder HDSS siklus 9 tahun 2023 melalui analisis potong lintang pada populasi dewasa. Dari 5.518 responden, sebanyak 5.245 orang dengan data lengkap tinggi badan dan panjang ulna dianalisis menggunakan regresi linear berbobot survei yang memperhitungkan strata, bobot sampel, dan koreksi populasi, sehingga hasilnya mewakili populasi dewasa Kabupaten Sleman. Komposisi responden relatif seimbang menurut jenis kelamin, didominasi usia 25–59 tahun, dengan rata-rata tinggi badan 157,7 cm dan panjang ulna 25,3 cm. Korelasi antara panjang ulna dan tinggi badan sangat kuat, sekitar 0,79, dan tetap moderat hingga kuat di setiap kelompok usia dan jenis kelamin. Temuan ini menegaskan ulna sebagai prediktor yang andal pada orang dewasa, termasuk pada usia lanjut.

Dari beberapa model yang diuji, satu rumus muncul sebagai yang paling unggul

Tinggi badan (cm) = 99,943 + 2,629 × panjang ulna (cm) − 0,115 × usia (tahun) − 6,628 × jenis kelamin
dengan jenis kelamin = 0 untuk laki-laki dan 1 untuk perempuan.

Interpretasinya cukup intuitif. Untuk panjang ulna yang sama, perempuan diprediksi sekitar 6,6 cm lebih pendek daripada laki-laki. Setiap tambahan 1 cm ulna meningkatkan estimasi tinggi badan sekitar 2,6 cm. Sementara itu, setiap pertambahan 1 tahun usia menurunkan estimasi tinggi sekitar 0,1 cm, selaras dengan fenomena penyusutan tinggi badan seiring penuaan.

Akurasi rumus tidak dinilai dari satu kali pemodelan saja. Tim melakukan validasi silang 10 lipatan, yaitu data dibagi menjadi sepuluh bagian, model dilatih pada sembilan bagian dan diuji pada satu bagian, lalu diulang sampai semua bagian pernah menjadi data uji. Pendekatan ini memberi gambaran performa rumus pada “data baru” yang belum pernah dilihat model. Hasilnya, Mean Absolute Error (MAE) sekitar 3,5 cm dan Root Mean Squared Error (RMSE) sekitar 4,5 cm pada populasi keseluruhan. Untuk konteks klinis dan survei populasi, ketelitian ini dinilai memadai selama pengguna menyadari bahwa ini adalah estimasi, bukan pengganti pengukuran langsung ketika kondisi memungkinkan.

Rumus ini juga dibandingkan dengan sejumlah formula yang sering dikutip di literatur, seperti Bonell, Sutriani, Mulyasari, Papadopoulou, dan Ilayperuma. Pada populasi dewasa dan subkelompok usia di bawah 60 tahun, rumus berbasis data Sleman secara konsisten menghasilkan kesalahan yang lebih kecil. Pada kelompok usia lanjut, akurasi memang menurun, sejalan dengan penyusutan tinggi badan yang cenderung lebih besar dan bervariasi. Pola penurunan ini cukup jelas sehingga pengguna dapat lebih berhati-hati saat menginterpretasi hasil pada usia sangat lanjut.

Dalam perspektif Sustainable Development Goals, inovasi ini mendukung SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Kesejahteraan yang Baik melalui perbaikan kualitas data antropometri yang menjadi dasar pemantauan gizi dan penyakit kronis. Pada saat yang sama, kerja ini mencerminkan SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, karena lahir dari kolaborasi antara akademisi, tim surveilans, enumerator lapangan, dan pemangku kepentingan layanan kesehatan di Sleman.

Ke depan, rumus ini berpotensi diintegrasikan ke aplikasi sederhana di gawai petugas. Cukup masukkan panjang ulna, usia, dan jenis kelamin, lalu estimasi tinggi badan akan muncul dan bisa dipakai untuk perhitungan indeks massa tubuh maupun kebutuhan gizi. Dengan satu pengukuran kecil di lengan bawah, banyak celah data tinggi badan di lapangan dapat ditutup, baik pada orang dewasa maupun usia lanjut, sehingga perencanaan kebijakan kesehatan bisa lebih tepat sasaran.

Detail rumus, pendekatan analisis, hasil validasi silang, serta pembahasan keterbatasan dan implikasi penggunaannya tersedia pada laporan lengkap. Silakan klik tautan berikut untuk mengakses dokumen.

Penulis
Oleh Septi Kurnia Lestari Wulan Febryana

Editor
Naufal Farah Azizah

Dokumentasi
Rahayu Kia Sandi Cahaya Putri